Sebagian kaum bapak masih saja terlihat nongkrong di warung kopi. Entah apa saja yang selalu mereka bicarakan setiap hari di tempat berbarisnya bangku-bangku dan meja itu. Mereka terkadang tidak peka terhadap istri-istrinya di rumah, yang dari selepas shalat subuh sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan anak ke sekolah, keperluan ke sawah, ke ladang dan lain-lain. Mereka mungkin tidak pernah mendongakkan kepala ke arah langit pagi hari, sehingga mereka tidak pernah melihat burung-burung yang berpasangan bahu-membahu menuju tempat mengais rejeki.
***
Tidak seperti rutinitas di setiap rumah pada umumnya, rumah panggung beratap seng di sudut desa itu tidak menunjukkan aktifitas sama sekali. Tidak ada sedikit pun pertanda tuk bersiap-siap pergi ke sawah atau ke ladang. Pintu rumahnya yang sudah mulai usang dimakan masa itu tampak menganga bak istana yang siap menunggu kehadiran tamu-tamu kehormatan. Sesekali ada beberapa orang keluarga terdekatnya mondar-mandir ke dalam rumah. Entah apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Rumah itu dihuni oleh Hasan dan istrinya, Aminah. Sepasang suami istri itu menikah satu tahun silam. Mereka tergolong dari keluarga ekonomi kelas bawah. Rumah yang mereka tinggali sekarang ini merupakan milik seorang tuan tanah. Mereka menyewanya dengan sistem bayar pertahun.
“Owek, owek, owek” terdengar tangisan bayi dari rumah panggung yang dihuni keluarga Hasan.
“Bayinya laki-laki” ucap seorang perempuan paruh baya yang membantu proses kelahiran bayi itu.
Bersambung....
Label:
Novel Jalan Impian